Wednesday, 11 January 2017

Persatuan dan Kerukunan Umat Beragama

Persatuan dan Kerukunan Umat Beragama
Oleh: Achmad Nurur Huda, S.Pd.I


A.   Pengertian Persatuan
Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi persatuan. Namun persatuan yang diinginkan oleh Islam adalah persatuan yang didasarkan pada ikatan dan semangat nilai-nilai dasar keIslaman bukan pada ikatan fanatisme golongan, madzab dan sejenisnya. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Ali Imran: 103.

103. dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Dengan demikian, maka jelaslah bahwa Islam sangat mengehendaki persatuan umatnya, bukan perpecahan, seperti yang terjadi dewasa ini.

B.   Kerukunan Umat Beragama
1.   Ta’rif
Kerukunan dari sudut pandang etimologis berasal dari  bahasa arab yakni “RUKAUM” yang berarti asas atau dasar, yang dalam bentuk tunggal berarti tiang dan dalam bentuk jamak “ARKHAN” artinya tiang-tiang.
 Kerukunan adalah sikap saling mengakui, menghargai, toleransi yang tinggi antar umat beragama dalam masyarakat multikultural sehingga umat beragama dapat  hidup rukun, damai  & berdampingan.
Rukun dalam arti adjektiva adalah baik atau damai.
Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan kerukunan umat Bergama adalah sikap saling menghargai dan toleransi dengan dengan pemeluk agama yang berbeda

2.   Kerukunan Intern Umat Beragama
Dalam pandangan Islam, sesama muslim adalah bersaudara sebagaimana firman Allah SWT:
  
10. orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.(Q.S Al Hujurat: 10)
Karena sesama muslim adalah bersaudara, maka tidak boleh saling menyakiti dan menganiaya, sebagai sabda Rasulullah SAW:
اَلْمُسْلِمُ اَخُواْلمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ
“Muslim yang satu adalah bersaudara dengan muslim yang lain. Oleh karena itu tidak boleh menganiaya dan membiarkannya”  (HR. Bukhari-Muslim)
Di samping itu Rasulullah menegaskan bahwa muslim yang satu dengan muslim yang lainnya itu bagaikan satu bangunan, bahkan satu tubuh, yang apabila satua bagian sakit maka bagian yang lain juga akan merasa sakit.
اِنَّ الْمُؤْ مِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ اَصَابِعَهُ
“Sesungguhnya hubungan seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu bagaikan konstruksi bangungan yang saling menguatkan antara yang satu dengan lainnya, Lantas Rasulullah menjalin jari jemarinya (untuk menunjukkan simbol persatuan orang mukmin)” (HR. Bukhari)
مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ اِذَا اشْتَكِي مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَي لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ باِ لسَّهَرِ وَالْحُمِّيْ
“Perumpaan orang-orang yang beriman dalam cinta mencintai, sayang menyayangi dan kasih mengasihi  adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit  anggota-anggota yang lain ikut merasakannya, yakni tidak bisa tidur dan merasa demam” (HR. Bukhari-Muslim).
Selain itu untuk mewujudkan persatuan dan kerukunan sesama umat Islam, maka Allah SWT memberikan panduan sebagai berikut:
  
29. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Q.S Al Fath: 29).

[1406] Maksudnya: pada air muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati mereka.
Dari ayat tersebut dapat disimpulkan sifat seorang mukmin yaitu:
a.     Tegas terhadap kekufuran
b.    Saling berkasih sayang sesama umat Islam
c.     Rukuk dan Sujud mencari karunia Allah

3.   Kerukunan Antar Umat Beragama
Dalam persoalan kerukunan umat beragama, yang dirukunkan bukanlah ajaran agamanya, akan tetapi yang dirukunkan adalah antar pemeluk agamanya. Yakni menghargai dan mengembangkan toleransi terhadap pemeluk agama lain dalam melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya tersebut. Hal ini sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Allah SWT dalam Q.S Al Kafirun: 1-6 sebagai berikut:
   
1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
4. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
6. untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."

    Dengan demikian maka prinsip yang pegang dalam membangun kerukunan umat beragama adalah:
1.   Tidak mencampuradukan keyakinan dan ajaran agama (Q.S Al Kafirun: 1-6)
2.   Toleransi hanya berlaku pada persoalan muamalah duniawiyah, tidak dalam masalah Aqidah dan Ibadah (Q.S Al Kafirun: 1-6).
3.   Islam tidak memaksa orang di luar Islam untuk memeluknya (Q.S Al Baqarah: 256).
4.   Boleh bekerjasama dengan pemeluk agama lain dalam persoalan duniawi, seperti piagam Madinah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

4.   Kerukunan Umat Bergama dengan Pemerintah
Islam adalah agama yang sempurna, yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia, termasuk di dalamnya adalah menyangkut hubungan dengan penguasa atau pemerintah, yang dalam terminologi Islam dikenal dengan Ulil Amri. Yakni para pemimpin pemerintahan maupun keagamaan.
Dalam hubungannya Islam dengan Negara, Islam mengajarkan prinsip:
1.   Taat kepada Pemimpin dalam hak kebaikan (Q.S An Nisa: 59).

59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

2.   Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan.
3.   Pemerintah menjamin keadilan dan keamanan pelaksanaan Ibadah warganya.
4.   Memberikan nasihat kepada pemimpin jika pemimpin tidak sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

5.   Menjaga keutuhan dan persatuan bangsa dan negara dari rongrongan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dalam rangka menghancurkan kesatuan Negara Republik Indonesia